Minggu, 21 April 2013

Notepad Kecil untuk Kartini Kini Oleh Mei Rahmawati

Banyak sekali perubahan dan pergantian sejarah dari masa kemasa, dari tempat ke tempat dari kondisi ke kondisi yang lain. Sekarang kita melihat banyak sekali perubahan status sosial mengarah pada persamaan, walaupun di beberapa tempat kita lihat masih ada ketimpangan. Oke, kita menuju pada hal positifnya saja.

Dinamika sosial dan budaya

Pada jaman Feodalisme, sekitar tahun 1800an kita tahu bahwsanya Indonesia masih berada di bawah cengkeraman penjajahan Belanda. Banyak ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di bumi pertiwi kita. Rakyat pribumi sangat sengsara. Upeti berupa hasil pertanian seperti padi, tembakau dan gula sebagai sembako (barang pokok pangan) begitu mudahnya diraup penjajah. Kaum perempuan bekerja menjadi buruh kolonial Belanda dengan menjahit, menenun, menganyam dan menjadi baby sitter anak mereka. Di jaman ini banyak keningratan, para priyayi hidup dalam istana kekeratonan layaknya para permaisuri. Perempuan berkasta, ada yang menjadi istri legal (biasa dikenal padmi) ada juga selir-selir



 Hal ini ada di jaman Kartini, walau Kartini sendiri adalah anak dari selir, namun jiwanya telah mendobrak dan memberantas segala macam kepriyayian. Hal ini bisa kita melihat wujud keseharian beliau, misal Ibu kandungnya diajaknya makan bersama suatu ketika acara makan malam bersama para saudara perempuan, duduk sama tinggi sama rendah di krsi yang sama. Beliau tidak membedakan mana ibu kandung dan ibu tiri, baginya setara. Disuatu siang hari itu, ia meminta ijin ibu kandungnya yang sedang menenun di belakang teras rumah untuk keluar keraton, mengunjungi seorang ibu beranak 4 tanpa suami untuk diberi sebungkus nasi. Kartini juga dikenal cukup pandai dalam hal seni, seperti menganyam, menenun dan melukis. Hingga suatu hari hasil karya tangannya itu diajarkan pada para saudaranya (Rukmini dan Kardinah) juga perempuan-perempuan rakyatnya. Perempuan mandiri, karya-karya kerajinan tangan tersebut dijual di pasar-pasar dan ke tangan para kolonial juga. Kartini memasuki masa baru bersama suami (Raden Mas Djojoadiningrat, Bupati Rembang waktu itu), ia menolak adat pernikahan kejawen seperti yang dilakukan oleh pernikahan adiknya, Kardinah. Membasuh kaki suami, menceplok telur, mencium kaki suami dll. Yang ada hanya berjalan sama tinggi dengan pesta yang sangat sederhana tanpa tuntutan adat. Baginya juga sistem poligami membawa kehancuran malapetaka sebuah anjangsana keluarga. Sempat shock bahwa dia sebagai seorang padmi muda dari kalangan selir bagi suaminya sendiri. Dengan lantang ia megatakan bahwa "Kangmas bukan seorang kesatria, dengan membuat sekat antara dia dan istri lain, membedakan meja makan diantara anak-anak mereka dan selir hanya sebagai pelampiasan nafsu semata.

Terimakasih ibu, hingga sekarang kami menikmati perjuanganmu. Perempuan bisa hidup mandiri dengan kelebihan dan kecerdasannya tanpa harus menunggu dan menggantungkan suami atau para lelaki. Perempuan banyak sekali memasuki ruang sosial.Bekerja sebagai guru, dokter, polwan, tukang sayur di pasar-pasar, penjual jajanan pasar, membantu suami di ladang dan sawah, membuat kerajinan tangan dll.  Tidak melulu hidup dalam sekat tembok. Mampu bersosial dengan banyak orang dan saling bantu membantu. Sehingga pada tingkat ekonomi kelas bawah pun, perempuan mampu membuka isolasi kehidupannya yang rumit. Perempuan tidak menginginkan mengungkuli hak dan kewajiban lelaki, tidak ingin menghapus kefitrahannya dan tidak menginginkan ketergantungan. Namun perempuan menginginkan kesetaraan yang sesuai kebutuhan, sama hidup, sama aman dan nyaman.

Dalam hal pendidikan

Ketika itu, Kartini belajar bersama kawan-kawannya di sekolah. Sejak kecil, ia mempunyai kecerdasan salah satunya dalam menghafal berbagai bahasa. Yang menarik, dia mempunyai sahabat sejak kecil bernama Stella (anak Belanda). Setiap jam pelajaran usai, ia mengajak  sahabatnya itu sambil bermain bandulan dan berskusi singkat. Ketika itu, ia bekata "Wahai Stella, aku tahu kamu cantik berkulit putih dan pandai di kelas kami. Aku melihat banyak sekali bangsamu duduk bersila bersamaku. Tapi mengapa dari hari ke hari, tahun ke tahun, aku tidak melihat satupun dari bangsa kami sendiri. Ataukah mereka merasa enggan bersama kaumku berkulit sawo matang, banyak sekali dari kaum perempuan khususnya tidak mendapatkan pelajaran, bahasa Belanda pun tidak kami pahami sedikitpun. Sungguhkah penjajahan itu tidak ada rasa belas kasih secuilpun? " Jelas Kartini.

Percakapan diatas adalah hasil pemikiran matang-matang Kartini terhadap nasib kaumnya. Bertubi-tubi ia merasakan hal bagaimana jika itu terjadi pada dirinya. Singkat cerita, Kartini mengajarkan membaca huruf satu demi satu dengan satu murid bernama Gayatri. Sampai pada saat yang singkat, beliau mempunyai banyak murid perempuan Jawa (kaumnya) dalam sekolah yang tidak cukup luas (rumahnya dibuat sekolahan dengan nama Pendopo di Kabupaten Jepara 1903) dan yang paling penting kartini mengajarkan tingginya nilai moral. "Anak-anakku, tidak malukah engkau sebagai anak Padmi, atau katakankan pada ibumu semua, bukanlah seorang istri sejati jika tidak bermoral padmi yang santun".

Pada era sekarang, kita semua bisa membuka mata bahwa pendidikan dapat dikenyam dan dilahap oleh berbagai suku, adat dan ras. Mudah didapat oleh bermacam kasta dan jabatan. Pendidikan mudah dimiliki oleh setiap anak dari keluarga ploretar tanpa ada cibiran. Baik dari keluarga tukang sol sepatu, tukang becak, tukang pangkas rambut, tukang jalanan, tukang tambal ban dll. Anak kyai mengikuti pelajaran satu sekolah dengan anak para santri, anak dosen mendapatkan sekolah satu kurikulum dengan anak guru TK, dan anak pengusaha sama halnya dapat beasiswa dengan anak petani.

Selain itu, sekolah khusus perempuan sudah banyak didirikan, sekolah Dharma Wanita, sekolah Taman Siswi, sekolah kursus kewanitaan (menjahit, menenun, menyulam, melukis, memasak). Bahkan sekolah tidak hanya sebatas di bangku sekolah. Bisa di jalan, kita perempuan bebas keluar rumah memahami dan melihat secara seksama bagaimana rumitnya kehidupan, kita mampu membuka hati luas dengan menghayati makna kehidupan. Perempuan bebas untuk bekerja, berkarya dan berdiskusi. Perempuan bebas apapun tanpa meninggalkan hal-hal kefitrahannya sesuai yang diajarkan oleh ibu RA. Kartini. Baginya, seorang pengajar tidak sebatas memberi pelajaran tetapi juga pendidik layaknya ibu mengemong (mendidik) anaknya.

# Surat Kartini untuk Ny. Abendanon 12 Des 1902
Selama di dunia ini masih ada airmata yang harus dikeringkan, masih ada hati yang perlu dihibur, selama itu kami akan selalu sibuk dan banyak bekerja dan karenanya masa bahagia.

Kairo, 21 April 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar