Senin, 17 Oktober 2016

Perempuan-perempuan Kantor

Hay  perempuan,
selamat pagi engkau dengan kecupan angin pekat
Selamat pagi engkau ditemani mega merah pagi
Selamat pagi engkau dengan tumpukan aktifitas
Hoaam, dikala yang lain terbang dengan mimpi-mimpi, engkau mewujudkan dengan cinta kasih
Dikala semua lelap di pulau kasur, engkau meninggalkan senyum mengulur

Kantormu bukan kantor mereka
Kantormu beda dengan mereka
Kantormu adalah kantor bersama mereka dalam duka dan suka
Kantor-kantor kehidupan
Kantor-kantor kesejahteraan hidup keluarga

Saat kau mengantor di luar
Hiruk pikuk kau terima
Kau terima dan kau mampu melaksanakannya
Sang pendidik, pengajar, profesi apapun kau lahap
Tak pernah lelah da...n lelap

Selamat siang engkau dengan sejuta harapan
Harapan dimana malam nanti bisa berkumpul kembali
Kembali dengan cinta kasih
Dengan ribuan mata hati

Selamat malam engkau bersama lelahnya rindu
Rindu bergelayut dengan sang mentari esok
Yang tak berkesudahan tugas esok

Surabaya, 16 Oktober 2016


Kamis, 07 Januari 2016

Kitab kuning

Pesantren identik dengan kitab kuning. Kitab kuning, pesantren dan tarekat mempunyai keterikatan yabg kuat. Hubungan antara kitab kuning dan keilmuwan Islam seperti di Arab, India dan Asia tenggara bahkan lebih-lebih cara pembelajarannya.

Pesantren sebagai lembaga menyerupai madrasah-madrasah lainnya di luar negeri seperti di Mesir, Yaman, Sudan, Maroko dan Arab saudi. Sistem yang dilakukan sudah ada sejak zaman ulama salafussoleh seperti sorogan (santri membaca kitab setelah kyai memaknai dan menjelaskannya) , sistem njenggoti (sang kyai memaknai tulisan gundul arab).

Dalam hal diatas, kitab kuning mempunyai beberapa pembelajaran yang diajarkan berisi paham aqidah asy'ari,  fiqh Syafi'i dan akhlak tasawuf imam Ghazali.

Dalam pesantren mempelajari banyak sekali karya ulama salafyang diajarkan hingga kini. Seperti, ilmu alat yaitu nahwu (imriti , nahwu wadhih, alfiyah ibnu malik), shorof (kitab nudhum maqsud karya imam humam al akmal, amstilati tasrifiyah), muhadasah. Ilmu fikih (fathulqorib, Fathul mu'in, uquddullujIn, qowaidulfiqh, fathul muin, ) ilmu kalam (jauharotutauhid karya imam juwaini, syarhul mawaqif), ilmu tafsir (tafsir jalalain karya imam jalaluddin assuyuthi dan jalaluddin almahali, tafsir ahkam karya imam alusy, tafsir kasyaf karya imam zamahsyari). Ilmu akhlak (akhlaku lil banat karya syekh umar bin ahmad barja', kitab ta'lim mutaalim karya imam az zarnuji, kitab akhlakullilbanin).

Esensi kitab kuning mengajarkan kita dalam 3 hal. Pertama yaitu burhani. Dalam hal ini, soko guru utama dalam penjelasan kitab kuning sangat berkelindan dengan dalil naqli. Baik dalil dari al quran dan hadits. Sehingga keonttikannya sangat relevan sebagai maha karya ulama atau para kyai dalam menjelaskan kitab. Kedua, bersifat bayani. Santri dituntut keras untuk memahami teks dalam kitab kuning. Akal merupakan metode memahqmi, meyakini dan mempraktikkannya. Selain itu kajian yang digunakan akan menjadi unggul ketika diwejawantahkan dalam kajian atau diskursus ilmiyah. Ketiga bersifat irfani. Para salafussoleh menulis dengan penuh hati-hati, tirakat dan spiritualitas lain. Bukan sebuah karya yang sebatas zaman. Namun kitab kuning digunakan dalam likulli zaman wal makan. Maka, kitab kuning hingga sekarang masih digunakan dan tersebar. Baik menggunakan kurikulum sorogan atau bayan dari kyai.

#iseng-iseng menulis di bus Rembang-Surabaya, 7 Januari 2016

Rabu, 21 Agustus 2013

Membumikan Bahasa Santun; Upaya Mewujudkan Perkembangan Moralitas Berbudaya




Oleh Mei Rahmawati Tabrani

Languange is not simply a formal system of sounds, words and syntactical structures; languanges also reaches into the domain of huan interactions, which for its own part follows certain rules – Adele Osterloh, 1996 - 

Beragam etnik dari baju adat, bahasa, rumah, adat-istiadat, makanan dsb dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kekayaan alam serta lautan meluas dari sabang sampai merauke memancarkan pesona sendiri. Tambak, sawah dan ladang terbentang kehijauan dan menguning. Maka tak heran jika Indonesia dikenal bangsa lain dengan negara agraris dan maritim. Di lain hal, ketika kita merantau dari kampung jawa ke kampung sumatra maka sangat jauh berbeda kebiasaan atau tradisi mereka. Dialek berbahasa satu kampung dari kampung sebelah saja berbeda. Inilah warisan nenek moyang kita yang termaktub dalam sankskerta dan manuskrip lainnya. 

Membahas bahasa kaitannya dengan membangun jiwa moral berbangsa cukup menarik. Bahasa jawa misalkan, berapa puluh dialek agak mirip kita temukan. Jawa Timur dan Jawa Tengah tentu berbeda dalam menkonsonankan bahasa, bahasa Jawa Tengah dan bahasa Jawa Barat lebih berbeda, apalagi bahasa pulau seberang. Maka tak heran, jika bahasa Indonesia wajib dibumikan di atas tanah pertiwi. Seiring sejalan bahasa Indonesia diresmikan dalam sumpah pemuda dengan dicetuskannya “Piagam Jakarta” bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan alat pemersatu rakyat Indonesia. Dengan tutur kata santun dan etis menimbulkan rasa simpati antar individu, pun demikian berhasil dalam membangun karakter bangsa.

Pembangunan karakter bangsa sebagai wujud moralitas berbudaya, wajib ada integrasi lingkungan sebagai sanitasi moralitas yang baik. Hal ini anak-anak sebagai sasaran penting dalam membangunnya dengan suntikan moral dalam lingkungan yang baik pula. Integrasi 3 pihak tersebut adalah peran rumah, sekolah dan lingkungan. Presiden tidak mngkin dong mengurusi moral secara satu persatu. Kaitannya dengan anak, usia penanaman moral berkarakter dibangun di bawah usia 7 taun, demikian hasil riset otak terakhir. “Karena salah didik mempengaruhi saat ia dewasa” (Ratna Megawangi, 2003). 

Kata ora ilok/ora elok sangat sering sekali terucap dari mulut orang tua kita terdahulu, kata-kata itu lahir sebagai jawaban untuk menasihati anak-anaknya atau orang yang paling muda supaya mengakhiri sikap atau ucapan yang kurang santun. Seakan kata-kata ora ilok ini sebagai keharusan yang harus ditaati supaya tidak kuwalat. Contoh lain; dilarang makan di depan pintu rumah karena bisa menolak jodoh, larangan memotong kuku dan tidur pagi karena mendatangkan seret rejeki, larangan keluar di atas jam 6 malam karena dimakan gendruwo dll. Sejatinya, patut bagi kita untuk mengetahui apa di sebalik itu semua. Memang terkesan takhayul, kuno dan mitos yang diwariskan dari nenek moyang kita. Padahal kata-kata tersebut sarat akan makna, dimana mereka ingin mengajarkan arti moral dan etika yang baik dengan pengandaian dan analogi. 

Senin, 19 Agustus 2013

Turats bagi Kebutuhan Perempuan




Oleh Mei Rahmawati Tabrani

Sesungguhnya penilaian yang berkutat pada kandungan umum teks turâts (warisan-tradisi, heritage, patrimoine, legacy) dan sama sekali abai terhadap pendekatan linguistik dan mantiq (logika) yang membentuknya, hanya akan menjerumuskan pada pandangan fragmentaris terhadap turats-Taha Abdurrahman-

Sebuah kehidupan di dunia pasti melahirkan sejarah. Sejarah baik yang terbentuk secara lahiriyah atau duniawiyah. Kehidupan lahiriyah dimana manusia ada sebelum tiada dan duniawiyah, manusia terikat oleh yang namanya agama, pemikiran dan adat-istiadat. Katakan suatu sejarah di sini lebih bermakna plural, pasti semua sejarah itu memiliki aturan yang wajib diadakan sesuai keberadaan dimana manusia bertahan hidup bersama-sama. Ketika suatu tradisi (turats) diasumsikan sebagai hal yang dilarang untuk mengsumsikan sesuatu, ia bagai sesuatu yang berkelamin tunggal, karya agung yang tidak boleh disentuh untuk merekonstruksi bagi bukan haknya  dan mempunyai wilayah kuasa tertentu.

Rabu, 08 Mei 2013

Ini Buruhku, Mana Buruhmu”, kata Mereka



Terbitnya sang surya dan kokokan ayam tiap pagimenjadi teman setia bagi seorang buruh. Bagi seorang buruh yang bangun disetiap tatapan anak-anak dan istri yang siap menerima hari baru, dia sudah siapjuga menghadapi apa yang harus ia kerjakan di setiap tugasnya.

Santapan pagi hari dengan segelas air hangat danjajanan gorengan menjadi menu rutinitas baik dibuat dari seorang ibu, istriatau anak-anak, atau bahkan membuat sendiri. Begitu indahnya dedaunan pagi,koran yang siap dilahapnya pula dan suara kayuhan sepeda atau kepulan asapmulai mewarnai pagi. Sesegera beranjak dari tempat dimana ia duduk untukkemudian mandi dan berganti pakaian kerja. Ya, buruh. Mungkin kita sudah tauburuh itu siapa. Buruh identik dengan pegawai kasaran, terikat oleh waktu danotoritas majikan / bos. Subordinatif tak bisa dielakkan dari jiwa buruh. Ohburuh, waktumu sangat singkat untuk anak-anak dan istrimu. Andai waktu tidak 7hari dan jam lebih dari 24 jam, akankah waktumu kau sisakan untuk keluargamuyang kau tinggalkan hanya demi sesuap nasi.

Memasuki abad kini, buruh sudah diberi kelonggaranwaktu 2 hari untuk berlibur yaitu Sabtu Minggu. Tapi, apakah itu bisa menjawabkeluasan buruh. Gaji buruh di negara Indonesia bukan dilihat dari kualitasseberapa banyak kualitas yang dikerjakan, seberapa kuantitas yang dilakukan, tapi tidak sesuai output dan input yang didapat oleh mereka.

Jarum jam semakin berjalan, detik, menit hingga jam.Sangatlah berlaku dan menjadi makanan di tiap waktunya. Bagaimana mungkinpekerja meninggalkan waktu bekerja ketika ia harus bersusah payah mengorbankanpeluh untuk mendapatkan sesuap nasi. Khususnya, di negara berkembang sangattragis nasib buruh perempuan. Cuti untuk sejenak demi kehamilan tentulah sangatkasihan dan sayang jika sejamnya hilang dari tangannya. Cuti tidak akan bisamengembalikan waktunya untuk mendapatkan uang. Maka tidak heran jika banyak ibumuda khususnya keguguran berdampak di bayi. Perempuan muda terkena kista,akibat haid dan nifas yang berminggu-minggu.

Beberapa dekade ini, entah mulai dari abad mesin, abadmodern, abad milineum atau apa, wacana sejarah membawa pada analisa logikailmiah dan progresif. Pada dasarnya, memang pembahasan tentang humanismemembawa sejumlah analisa empiris sangat mendalam sesuai perkembangan jaman.Terkait sejarah buruh, sampai pada titik manakah sejarawan membidik atausekedar hipotesis disertai argumen kuat.

Kekuatan sejarah mempunyai urgensi bagi alarm manusia.Ketika 1 Mei, bangsa Amerika berbondong-bondong turun ke jalan demimenginginkan kemerdekaan buruh dari belenggu upah kian merosot. Pun demikian diIndonesia, satu May yang dikenal hari buruh di Indonesia mengalami beberapatahapan sejarah, mulai dari demo besar-besaran sampai  libur pada masa Soeharto karena menolak darisudut pandang anti-komunis, karena ini tidak sesuai pada ideologis bangsaIndonesia yang anti-komunis. Namun pada kenyataannya sepanjang 5 tahun kurang lebih,tidak ada gerakan destruktif bahwa demo mengakibatkan hal fatal.

Pada baru-baru ini, polemik kenaikan BBM sejak April2013 kembali bertabuh setelah setaun lalu dikabarkan. Kabar berita di Indonesiamemang begini, temporal saja, sulit untuk diketahui kapan batas berlakunya,apakah ini hanya permainan politik saja guna membungkam masyarakat kelas bawahterhadap problem korupsi? Entah. Sepanjang BBM naik, barang pokok/sembakomelejit dan bersamaan masuk uang pangkal bagi anak sekolah tentulah menambahkerumitan keluarga. Gajipun dinilai sangat minim diantara gaji buruh ASEAN. Indonesiamenempati gaji terendah se-Asean perbulan 2jt di kota metropolitan sepertiSurabaya dan Jakarta. Kerumitan yang dialami sangat membludak bersamaan dengandemografi penduduk.

Jaman mesin musti menjadi momok besar di kalanganploretar, tenaga fisik mulai melorot, PHK dimana-mana, demo bertumpah darah,rumahsakit diam membisu menangani ibu bapak kering disaat detik kematian danapapun itu.Mesin menggantikan posisi majikan namun tak bernyawa. Manusiasebagai perkakas borjuis yang takguna. Mungkin, sebagai bahan serep ataukeistimewaan fungsi biologis terkait tubuh perempuan. Pada akhirnya penjualankontrasepsi bertabur dimana-mana seperti di mall, market, club malam dll.

Bagaimana kami melihat?


Minggu, 21 April 2013

Notepad Kecil untuk Kartini Kini Oleh Mei Rahmawati

Banyak sekali perubahan dan pergantian sejarah dari masa kemasa, dari tempat ke tempat dari kondisi ke kondisi yang lain. Sekarang kita melihat banyak sekali perubahan status sosial mengarah pada persamaan, walaupun di beberapa tempat kita lihat masih ada ketimpangan. Oke, kita menuju pada hal positifnya saja.

Dinamika sosial dan budaya

Pada jaman Feodalisme, sekitar tahun 1800an kita tahu bahwsanya Indonesia masih berada di bawah cengkeraman penjajahan Belanda. Banyak ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di bumi pertiwi kita. Rakyat pribumi sangat sengsara. Upeti berupa hasil pertanian seperti padi, tembakau dan gula sebagai sembako (barang pokok pangan) begitu mudahnya diraup penjajah. Kaum perempuan bekerja menjadi buruh kolonial Belanda dengan menjahit, menenun, menganyam dan menjadi baby sitter anak mereka. Di jaman ini banyak keningratan, para priyayi hidup dalam istana kekeratonan layaknya para permaisuri. Perempuan berkasta, ada yang menjadi istri legal (biasa dikenal padmi) ada juga selir-selir

Senin, 15 April 2013

Ulama/Pemikir Nyentrik Nusantara: Dakwah sekaligus Penggerak Gender



 Oleh Mei Rahmawati*

Kita semua sudah memahami bahwa Islam adalah agama selamat, yang baik bagi pemeluknya dan secara kultur membentuk pribadi manusia yang berkarakter dan berbudaya. Semua tahu dan paham bahwa nabi Muhammad pembawa kasih dan sayang bagi seluruh umatnya. Salah satunya membebaskan kaum perempuan di bawah pasungan  sejak masa jahiliyah, seperti penguburan  bayi dan wanita secara hidup-hidup, sabotase hak waris, perbudakan dan penjualan perempuan.

Selasa, 26 Maret 2013

Alarm Diri

Alarm Diri

Gusti pengeran kito,,Jika hidup mengenal malu, mengapa kami masih memperlakukan hidup penuh dengan kemaluan

Jika agama menjaga harga diri perempuan, mengapa masih banyak perempuan di dunia ini yang menjual harga diri masing-masing

Jika keluarga membangun pondasi negara yang kuat, tapi mengapa pasangan hidup banyak mengalami patriarkhi dan diskriminasi

Jika negara membangun kemapanan budaya, namun mengapa pada akhirnya membudakkan diri pada negeri tetangga

Selasa, 05 Maret 2013

Sekilas Manajemen Diri Pra Nikah



Oleh Mei Rahmawati[1]
Pernikahan adalah hubungan sakral antara laki-laki dan perempuan untuk saling menyayangi, mengasihi dan memahami. Hubungan yang terjadi antara keduanya dalam sebuah pernikahan merupakan hal yang paling mendasar. Mengapa? Karena pernikahan  pondasi dasar membangun sebuah keluarga kecil  dari anggota masyarakat juga negara. Jika pondasi dasar tersebut kokoh, maka kokohlah peradaban manusia yang harmonis, selaras dan seimbang sebagai manusia bertuhan, masyarakat dan negara .
Karena subyek pernikahan adalah manusia yaitu dua jenis yang berbeda, maka seyogyanyalah sejak dini memanajemen pra nikah. Sebelum kita memasuki pembedahan manajemen pra nikah, baiknya kita memahami dulu  makna dan tema terkait.

Kamis, 31 Januari 2013

Rambut Perempuan Bukan Aurat


Oleh Mei Rahmawati

Daripada bengong, mending iseng-iseng dan coba-coba nerjemahkan buku. Itung-itung sambil belajar..maaf tulisan masih newbie :) mohon dikritik atau saran! Thanks.

Sekarang ini, saya mau berbagi cerita tentang hijab. Sejarah hijab saja siiih.

Beranjak dari pemikiran meletakkan tutup kepala perempuan yang berarti hijab ketika mereka berpendapat bahwa rambut perempuan aurat. Artinya ada perempuan berhijab dan ada juga tetap saja terbuka rambutnya, memakai perhiasan, berias alis mata, bedak dan lipstick. Perkara  demikian sangat kontras dan menghasilkan debat kusir.

Lalu timbul pertanyaan, apakah rambut aurat? siapa yang berkata demikian? Apa sejarahnya pemikiran tersebut? Dimana letak kebenarannya?.
Demikian jawabannya

Rambut pada masa Mesir kuno:
Dahulu tumbuh peradaban Mesir kuno, timbul keyakinan pemikiran teologi bahwa rambut adalah simbol kebanggaan dan kekuatan. Misal, ketika pendeta mereka masuk gereja, mereka ada yang bertugas membaptis anak gembalanya, menghibahkan  hidup pada tuhanNya dengan tinggal dan beribadah penuh di kuil. Maka ada momen dimana dia mensucikan agamanya dengan menggunting rambut secara plontos, sebagai bukti ketawadhu’an di depan tuhannya dalam setiap gerakk-gerik dan aktifitas di tiap harinya.

Demikian arti adat budaya Mesir kuno, baik laki-laki perempuan, untuk memplontos rambut.sebagai bukti penyuguhan tawadhu’ dan kehormatan di depan tuhanNya. Seperti laki-lakinya meletakkan rambut di atas baju, mereka membakar rambut tersebut dan berlindung dengan memuja-muja sampai habis api tersebut. Sebagaimana laki-laki, perempuan juga demikian, bersolek, menutup rambut dalam bejana guna dihibahkan, adat demikian bernama BARUKAN.

Pemikiran Mesir kuno tersebut menginfiltrasi pada seluruh alam sampai pada kebudayaan yang berbeda juga, kita lihat pada pendeta gereja Kristen pada abad pertengahan, mereka memplontos rambut seperti  ibadah agama Hindu-Budha bahkan sampai sekarang yang kemungkinan mengikuti akar dari adat Mesir kuno dalam penggundulan rambut mereka dari adat keagamaan yang berkeyakinan animism- dinamisme. Ada juga di kebudayaan lain seperti masa kebudayaan Julius Caesar (120-44SM), raja Kristen di Roma, ada gejolak pengaruh pemikiran misal waktu  perang bumi al Ghol (Perancis), rakyatnya mengirimkan rambut mereka sebagai ketundukan pada negaranya.

Jumat, 02 November 2012

Bedah Buku: Ilustrasi Perempuan dalam Bingkai Seni, karya Dr. M. Taj dan Dr. Wail Gholi


Kajian Hawa
Senin, 22 Oktober 2012

Tuhan menciptakan makhluk hidup bernama manusia yang terdiri dari dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Masing-masing mempunyai karakter sangat berbeda baik ditinjau dari segi fisik atau non fisik (perwatakan). Inilah dasar kehidupan, dimana hidup ada saling melengkapi dari kekurangan masing-masing. Sering kali dalam perwatakan, lelaki dengan karakter keras, berani, heroik, pejuang dan pemikul beban rumah tangga. Sedangkan perempuan, lebih kevisualisasi yaitu tubuh molek, lemah-lembut, rupawan, makhluk cengeng dan lemah , lembut hati dan sayang bagi anak-anaknya.

Menjadi asumsi ketika sebagian orang berargumen bahwa karakter positif jabang bayi anak melekat dari ayah. Karena seorang ayah mempunyai kebagusan dalam perjuangan lebih untuk menghidupi secara lahiriyah/nafkah bagi calon bayi dan batiniyah dari hubungan seks dengan istri. Argumen tersebut belum cukup kuat karena hanya bersifat asumsi yang kabur. Gen dan sel yang terbentuk selama kehamilan dan sesudahnya, tergabung akibat dari persatuan jenis antara laki-laki dan perempuan, sedangkan karakter, terbentuk dari sosio historis perkembangan anak dan bersifat  tobi’ah al nasl itu hanyalah satu argumen yang relatif. Argumen tersebut bukan satu-satunya keputusan final. Ada kemugkinan karakter anak terstimulasi dari ibu. Pada masa kandungan, sang ibu hobi mendengarkan musik sehingga anak suka musik pula, atau terbentuk dari sejak lahir baik mirip secara ilustrasi wajah ataupun karakternya karena kedekatan hidup lebih lama dibuaian ibu.

Ilustrasi perempuan dalam seni saling berkelindan antara ilustrasi dan realita. Ilustrasi bisa diartikan fotokopi atau jiplakan jasad kita bukan atas dasar dibuat-buat. Relief Yunani kuno Aristoteles berbadan membungkuk sambil menekukkan tangan kanannya, ini berarti. seni membahasakan peradaban  pada masanya. Artinya, tidak terbatas manuskrip atau buku sejarah yang mampu untuk membahasakan peradaban, budaya, kultural dan pemikiran pada jamannya.

Kamis, 27 September 2012

Pak Pemerintah dan Pak Pengusaha, Tolong Dengarkan Kami Para Tani!


Oleh Mei Raahmawati

Indonesia terkenal dengan sebutan negeri agraris.  Sawah dan ladang terbentang luas. Sengkedan tersusun rapi, kotak-kotak dan hijau segar warnanya. Setiap pagi buta, tidak sedikit bapak dan bu tani berbondong-bondong membawa cangkul, arit dan sapi atau kerbau untuk dibawa ke sawah.  Dengan senyum semangat, langkah kaki menancap jalanan berbatu dan  aspal  juga menapaki dataran tinnggi. Siang hari, mereka pulang kerumah. Sebagian petani penuh bahagia, mereka beristirahat menikmati hidangan yang dibungkus di rantang buatan istri dan anaknya, sambil menunggui sawah dan mengusir burung nuri, elang dan tikus sawah dengan tali dan orang-orangan.

Selasa, 18 September 2012

Feminisme; Sebuah Perjuangan yang Tak Pernah Usai




Oleh Mei rahmawati*


Secara historis, agak sulit untuk melacak secara pasti kapan istilah dan bentuk gerakan feminisme itu muncul. Kata feminisme sendiri mulai banyak digunakan oleh kebanyakan kalangan gerakan perempuan Selatan sejak akhir abad XIX dan awal abad XX, sementara kalangan gerakan perempuan Utara menggunakan istilah feminisme sebagai sebuah paham/ideologi untuk melakukan perubahan masyarakat, terutama dengan pendemokrasian kehidupan rumah tangga, masyarakat dan politik, ekonomi serta mengakhiri diskriminasi rasial.

Pada paruh perjalanannya, istilah feminisme pun tidak dengan sendirinya identik dengan berbagai gerakan perempuan. Dengan pengertian lain, tidak semua gerakan perempuan sama dan mau disamakan dengan feminisme, meskipun isu dan persoalan perempuan yang diperjuangkannya relatif sama dengan isu-isu yang menjadi sasaran kritik dan perjuangan feminisme itu sendiri. Mungkin ketidak-identikan gerakan perempuan dan feminisme lebih disebabkan oleh sejarah kemunculan keduanya, dimana feminisme lebih identik dengan Barat. Tetapi lambat laun, feminisme semakin mengalami perubahan, bukan hanya adalam tataran diskursif semata melainkan juga dalam lokus perjuangan yang dilakukan. Untuk itu bukan lagi merupakan sesuatu yang penting untuk memperdebatkan apakah gerakan perempuan itu harus identik dengan feminisme atau tidak. Bagaimanapun keduanya tetap bisa berjalan beriringan, karena keduanya sama-sama memperjuangkan permasalahan kaum perempuan yang memang selama ini menjadi lahan diskriminasi dan sub-ordinasi.

Dalam Islam sendiri, patut dimaklumi bahwa bukan hal yang mudah untuk membayangkan titik temu antara feminisme di satu sisi dan Islam di sisi yang lain meskipiun dalam  banyak hal berusaha dicontohkan bahwa keduanya bisa sejajar dan bahkan bisa menginspirasi satu sama lain. Persoalan yang cukup mendasar adalah karena feminisme -sebagai sebuah gerakan dan disiplin keilmuan- merupakan fenomena yang tidak pernah muncul di dunia Islam, sementara Islam sendiri tumbuh dan berkembang di tanah Arab yang dikenal cukup kuat cengkeraman patriarkinya.  

Dalam pola berfikir, berinteraksi, gerak dan waktu untuk bersosialisasi, perempuan merupakan makhluk yang lemah dibanding kaum Adam. Secara biologis pun disebutkan perbandingan 9:1, yang berarti bahwa 9 milik laki-laki dan 1 milik perempuan dalam segi pola pikir. Namun hal ini lain, 1:9 dilihat dari segi psikis. Artinya, perempuan selalu mengedepankan perasaan. Namun Allah menciptakan ini semua terdapat hikmah tersembunyi. Dimana perbedaan itu adalah sebagai suatu simbol untuk melengkapi kehidupan. Dengan kelembutan, ketelatenan yang dimiliki oleh kaum perempuan menjadikan tanggungjawab dalam beberapa urusan rumah tangga bisa terselesaikan. Misalnya saja mengasuh dan mendidik anak, mencuci, bersih-bersih rumah, mencuci dan lain sebagainya. Namun demikian apakah perempuan tidak memiliki hak untuk bersosialisasi dalam masyarakat, beragama atau dalam hal memimpin. Inilah diskursus yang selama ini diusung oleh para pejuang kaum perempuan. Dimana kaum perempuan tak jarang dianak-tirikan dan tidak diperkenankannya memposisikan apalagi mengangkat kesetaraan perempuan (gender) dalam sektor-sektor kehidupan. walaupun memang kaum perempuan tidak bisa mengingkari terhadap “doktrin” yang menyatakan bahwa sekuat-kuatnya perempuan belum bisa menandingi kaum Adam. Itu adalah doktrin keniscayaan.

Selasa, 11 September 2012

MARYAM; KAJIAN KOMPARATIF TEOLOGIS ANTARA ISLAM DAN KRISTEN


Oleh Mei Rahmawati[1]

Surga digambarkan dengan tempat yang asri, sejuk, tanaman-tanaman, binatang-binatang jinak, taman indah, bidadari cantik dan apa saja yang diinginkan dari surga tercapai. Sedangkan  neraka digambarkan dengan jurang api mendidih dicampur timah dan nanah. Di sana tidak ada bidadari, tapi ada setan, jin dan manusia yang disiksa, baik leher tergantung, badan disetrika dan terlilit ular. Dari gambaran di atas, jelas bahwa kebanyakan rasul mengajarkan dan mengenalkan agama melalui cerita dan dongeng para kenabian untuk mudah dicerna bagi sang pemeluk agama.
Agama tidak mampu diraba secara nalar, karena Tuhan bagi sang hamba hanya mampu dirasakan secara batin bagi seawam apapun tentang agama, bahkan ulama yang tinggi ilmu agamanya. Hal ini digunakan semacam metode pendekatan secara implisit bagi seorang pengarang, sang pemikir atau pengkaji agama untuk memahamkan makna dari isi al-Qur’an atau al-Kitab. Seorang penulis berasal dari Arab, Kholafullah, menalarkan ayat Tuhan dengan sesuatu yang sangat renyah dicerna. Teori kemapanan dia untuk mendialogkan suatu ayat sangat fantastis. Irfani, burhani dan bayani, tiga konsep dibentuk dalam satu metode dan menghasilkan seni ayat Tuhan yang dikemas dalam cerita dongeng dan kisah. Sebagaimana irfani, dalam dunia sufistik, sang sufi mengkontemplasikan agamanya untuk menyatu di ruang jiwa.[2] Tidak jauh dengan agama Kristen, keyakinan hukum trinitas disakralkan dalam penamaan Tuhan. Trinitas bukan diambil sebagai simbol atau ideologi umat Kristiani baik Koptik, Protestan atau Katolik, tapi sebagai hukum yang terpatri dalam keyakinan. Tuhan Bapak atau ruh al-qudus (Allah), Tuhan anak (Yesus) dan Tuhan Ibu (Maria).  Nanti akan kita jelaskan yang menjadi tema pokok kajian kita.

Selasa, 04 September 2012

Mey Ziyadah



Oleh Mei Rahmawati


Mey Ziyadah atau dijuluki dengan An Nabighoh Mey, salah satu tokoh pembangkit modernisme Arab. Memulai karier sebagai kolumnis muda sekaligus penyair berbahasa Perancis. Orasinya sangat memukau ketika dipercaya untuk mendeklamasikan puisi Khalil Gibran, pada perayaan para penyair di Opera 24/4/1923 bersama kawan karibnya, Khalil Matron. Orasi Mey dikenal dengan suara lantang, lafad Arabnya mengalir dan penjelasannya yang gamblang membuat para penonton terkagum-kagum. Perayaan ini dihadiri para penulis dan penyair Arab.

Kamis, 16 Agustus 2012

Menjadi Perempuan yang Tidak Curhat Saja


Oleh Mei Rahmawati

Dalam teologi Islam, eksistensi perempuan sebagai makhluk Tuhan, menempati posisi kedua setelah kaum Adam. Hawa baru diciptakan, setelah Adam telah ada terlebih dahulu. Hal ini menggambarkan bahwa kaum perempuan seakan-akan hanya sebagai pelengkap bagi kaum laki-laki. Posisinya yang nomer dua, ternyata tidak saja secara fitrah pribadi, namun juga sebagai manusia. Hal tersebut membuat perempuan merasa kurang mendapat penghargaan dan pernghormatan. Alangkah lebih baiknya kalau perempuan tidak hanya sekedar melahirkan, tapi juga sebagai makhluk sosial yang bersosialisasi dan berkarya untuk turut membantu dan membangun sekitarnya.  

Perempuan: Kunci Bias Gender Dalam tantangan Sosial-Budaya dan Agama Oleh Mei Rahmawati

Ada setetes embun pagi yang ingin Dewi rengkuh. Kabut pagi membawa pagi baru untuknya. Siulan burung pertanda ada ketentraman. Huuuh, kiranya aku harus bangkit dari permasalahan ini, hmm aku sedikit lega bisa menghirup kembali udara pagi yang lama terkurung dalam angan, pikirnya. Sel jeruji cukup membuatku pasrah akan masa lalu, dimana suami dan anak-anakku jauh dari diriku. Aku harus bangkit, kembali menggerutu.

Dewi, seorang perempuan karier yang terjerat korupsi dan rumahtangganya cukup rumit. Sang suami terjebak dunia malam bersama para gadis kota dan sang anak-anak lepas dari kasih Dewidan suami. Bisa dibilang kaya dan tercukupi. Semua kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier cukup di pandang depan mata. Dahulu, atap rumah sesek menjadi saksi atas ketangguhan rumahtangganya, ditemani gerabah muda dan alas daun kelapa. Tapi, hal itu cukup berlangsung beberapa tahun silam, kini menjadi istana rapuh.

Orang-orang sekitar rumah mudah sekali laku nilai, tak perlu berbisik lagi untuk menyimpulkan apa yang terjadi dalam gedung indah milik Dewi dan keluarga. Serentak kaget, ketika tiap malam, ada bunyi geretan garasi mobil milik Dewi terasa keras. Dan suara riuh setelah lelaki itu masuk dalam rumahnya, anak-anak kecil ikut bertandang tangis. Tetangga merasa rikuh bermain di istananya, tahu sekali jika Dewi melakukan hal haram tersebut.

Keesokan harinya, ada banyak polisi menggeret tangan dewi dan suami dengan sejumlah borgol mengenai tangan mereka, beberapa furniture rumah disabotase oleh aparat keamanan, dan merka menemukan obat eksetasi ada dalam gudang rumah, taukah siapa pemilik barang tersebut? Suami menjadi tersangka.
Sekilas fenomena yang terjadi dalam kehidupan Dewi belum cukup menjadi sampel dalam realita kehidupan. Ada problem dari sekian problem yang wajib bahkan sudah tak wajib lagi dijumpai. Problem laku sosial masyarakat, rumah tangga, ekonomi, agama bahkan Negara pada umumnya.

Kamis, 09 Agustus 2012

Islam Radikal: Kian Lebay di Tengah Bangsa

Ada sekolompok militan yang menamakan dirinya sebagai pahlawan jihad, pembela anti-liberal dan kapitalis. Penulis semakin heran dan bertanya, di negara kita heterogen, negara yang berkembang banyak sekali  problemitas  sosial, ekonomi dan budaya. Paceklik dari sosial budaya ini membawa pada tingkat ide teologi masyarakat. Tidak sebatas masyarakat awwam terkena arus dehidrasi agama, sehingga  manut-manutan, pun demikian